Tulisan Bebas

Hossein Derakhshan

I miss when people took time to be exposed to opinions other than their own, and bothered to read more than a paragraph or 140 characters. I miss the days when I could write something on my own blog, publish on my own domain, without taking an equal time to promote it on numerous social networks; when nobody cared about likes and reshares, and best time to post.

Hossein Derakhshan (@h0d3r)

Iran’s blogfather: Facebook, Instagram and Twitter are killing the web

Standard
Tulisan Bebas

13 Tahun Bersama XL

13 tahun bukanlah waktu yang cepat, tidak juga bisa dianggap sebagai waktu terlama. Namun, 13 tahun apabila diukur berdasarkan umur tentulah itu waktu yang lama. Apabila dimulai dari bayi, mungkin 13 tahun sudah jadi anak sekolah dasar. Atau bila ikut kelas akselerasi sudah anak Sekolah Menengah.. 😀

logo XL dari Wikipedia

logo XL dari Wikipedia

Tapi bagi saya, 13 tahun terasa sangat cepat. Tak terasa sama sekali. Sekian banyak pencapaian, sekian banyak perjalanan dan tak terasa ribuan kilometer telah dilalui. Mulai dari kuliah, kerja sambil kuliah, pengorganisiran, demonstrasi, lulus kuliah, bekerja hingga sekarang menikah. Berkeliling Jawa, Sumatera, Bali, Sulawesi hampir semua pernah dilalui.

Tak pernah menyesali ketika pertama kali ditawari seorang teman kuliah yang saat itu memulai bisnis berjualan kartu perdana. Kala itu dia menawarkan berbagai macam kartu perdana, tapi pilihan saya jatuh ke nomor XL Jempol. Harganya memang lebih mahal diantara kartu perdana provider lain, namun karena keluarga semua menggunakan XL maka mau tak mau saya juga ikut. Pertimbangan yang lain adalah karena XL satu-satunya provider yang pertama kali memasang BTS di desa saya. 😀

Yang menjadi masalah adalah saya belum punya handphone kala itu. Bahkan yang paling jelek sekalipun. Karena waktu itu sangat wajar bagi kami mahasiswa golongan nanggung (ganteng ngga, kaya ngga, kere iya) untuk berbagi Handphone. Iya, handphone satu, kartunya satu kontrakan. Jadi setiap orang dari satu kontrakan punya kartunya masing-masing. Satu lobang rame-rame.

Maka, mau tak mau saya harus mencari uang agar bisa membeli handphone. Beruntung ada teman-teman yang selalu memberi saran. Pada akhirnya berjualan buku yang menjadi pilihan saat itu. 3 bulan setelahnya saya bisa membeli sebuah Handphone paling jelek, seharga 200 ribu. Saya pasanglah kartu XL Jempol.

Continue reading

Standard