Tentang Belajar

Akhir-akhir ini banyak kerjaan yang sangat dipaksakan untuk kukerjakan. Pekerjaan itu adalah membuat proposal. Pekerjaan yang jauh dari maincore pekerjaanku seharusnya.

Proposal yang aku kerjakan tak main-main juga harganya, diatas ratusan juta dan itu uang negara dengan 3 kegiatan. Sangat menyeramkan waktu awal aku kerjakan. Bagaimana tidak, wong sejak dari dulu baru kali ini aku mengerjakan proposal dengan nilai yg begitu besar.

Ketakutan jelas ada. Yang paling aku rasakan adalah bingung darimana harus memulai. Dan itulah sebenarnya proses.

Manusia selalu dihadapkan pada kebingungan dalam memulai, harus bagaimana, harus seperti apa, harus belajar darimana. Pun aku. Awalnya aku tak tahu standar pengadaan barang jasa pemerintah itu seperti apa. Aku kerjakan saja proposalnya, pendahuluan jadi. Setelah itu dasar hukum, copy paste, dan lain-lain aku kerjakan dengan sangat ngawur. Dalam pikiranku gampang saja.

Dan benar, proposal langsung dicorat-coret Pejabat Pembuat Komitmen. Persis seperti mahasiswa mau skripsi. Proposal pasti selalu penuh coretan. Namun itulah belajar dalam maksud yang sebenar-benarnya. Sampai empat kali aku maju tetap ada coretan. Anyel, kesel dan hampir putus asa. Namun akhirnya satu proposal masuk juga. Legaa..

Di proposal kedua aku tinggal kerjakan lagi, sudah aku samakan dengan yang pertama. Keliru!. Heh?. Kok bisa batinku saat itu. Ternyata yang kedua ini proposal jasa, sehingga proposalnya harus mengacu pada standar biaya umum jasa. Apalagi ini.. Akhirnya aku coba mencari contohnya di bagian lain. Dan akhirnya dapat pencerahan juga. Alhamdulillah dapat bimbingan. Bahkan bisa dibilang proposalku paling detail dan paling masuk dibanding proposal lain.

Inilah belajar bagiku, jangan pernah takut keliru bila kita masih berhubungan dengan manusia. Semua bisa dipelajari, semua bisa dipahami asal kita berniat. Kesalahan demi kesalahan membuat proses kita semakin kaya.

Tuhan tak pernah menciptakan kita sia-sia. Itu saja.

Tinggalkan Balasan