eViacam, Aplikasi Pengganti Mouse dengan Wajah

Dengan judul seperti itu apakah menarik? Mungkin judulnya agak aneh, namun saya pribadi pun juga merasa ganjil dengan judul tersebut untuk menjelaskan bagaimana menariknya aplikasi yang ingin saya bahas kali ini.

Semua orang sekarang pasti merasa bahwa teknologi sudah sedemikian berkembang, semua orang dimanjakan dengan penemuan-penemuan teknologi yang mumpuni. Namun mungkin anggapan itu tak berlaku bagi para difable yang mungkin malah seringkali susah untuk menggunakan jari jemarinya klak-klik di depan komputer.

Nah, namun bukan teknologi namanya kalau tak bisa menjawab kebutuhan hal tersebut. Maka aplikasi ini hadir untuk menjembatani para difable ataupun orang normal yang seringkali tidak mau susah menggunakan jarinya di touchpad dan mouse mereka.

Menurut situs pengembangnya, eViacam/Viacam ini adalah aplikasi yang berguna untuk menggantikan fungsi tangan kita dengan menggunakan kepala atau wajah (http://eviacam.sourceforge.net), jadi aplikasi ini tidak akan pernah berguna bagi yang wajahnya rata.. 😀 😛
Lanjutkan membaca “eViacam, Aplikasi Pengganti Mouse dengan Wajah”

Akankah saya setia dengan Linux?

Pertanyaan yang menggelitik saya, karena tak terasa sudah 1 tahunan ini benar-benar bisa sangat menikmati linux. Namun itulah hasil dari sebuah perkenalan yang panjang, dan sangat berkesan. Jika ditanya sejak kapan benar-benar berkenalan dengan Linux, jawabannya sudah sangat lama.. sejak tahun 2006-2007.

Waktu itu pertama kali mencoba Desktop Ubuntu 4.10 (Warty Warthog) di warnet STAIN-Salatiga. Bukan karena warnetnya yang sudah menggunakan Linux, tapi karena seorang Kojek dan juga si Arif dari Teater Getar-Salatiga yang sudah bisa menginstall Linux di desktopnya dan dipamerkan di warnet.. 😆

Saat dimana windows xp baru merilis sp1, warnet tersebut saat itu masih menggunakan windows 2000 dan bandwith 128Kb untuk 10an komputer 😀 (terasa mahal benar komputer saat itu).

Itulah awal dari perkenalan yang benar-benar sangat mengesankan, karena bermula dari sana akhirnya mulai mencoba-coba menggunakan. bukan di komputer sendiri (karena belum punya!), namun di beberapa komputer warnet menggunakan dual-boot.

Saat yang lain menggunakan Yahoo Messenger untuk chat, Kopete atau Gaim menjadi pilihan kami. Saat yang lain main game, kami KO. karena wine atau emulator yang ada pada saat itu sama sekali tak bisa digunakan untuk menjalankan game.. 🙁 (virtualisasi jg belum ada)
Lanjutkan membaca “Akankah saya setia dengan Linux?”