Film Pendek Terbaik

Ini menurut saya yang awam dunia film dan ngga terlalu suka lihat film. Bukan film maker juga. Cuma alhamdulillah di dekatkan dengan kanca-kanca yang berkecimpung di wilayah tersebut. Jadi kadang dapat info film bagus.

Nah, ini film pendek terbaik menurut saya. Ceritanya agak-agak ndrama romantis, cuma feel-nya dapat. Judulnya Signs. Serius, dulu pas pertama lihat langsung jatuh bangun pengen lihat saking fakir benwitnya saya.

Ceritanya tentang perkenalan seseorang laki-laki dengan seorang wanita yang berada di lain kantor. Caranya berkenalan itulah yang  membuat saya tidak biasa dalam memandang film ini. Itu hal yang baru dalam kacamata pribadi saya.

Namun, disisi lain film ini kita akan disuguhi pemandangan rutinitas manusia. Statis, dan cenderung menjemukan. Nah, cerdasnya pembuat film ini adalah membuatnya menjadi daya tarik.  Film ini termasuk golongan film bisu, karena hampir tak ada dialog antar pemain.

Daripada penasaran silahkan saja dilihat sendiri filmnya.

Ciee.. blog UNS maintenance ulang ya?

Sudah sekian lama ngga buka-buka blog ini lagi semenjak laptop melayang, dan sibuk mengumpulkan recehan demi perumahanan. Otak juga rasanya buntu pengen nulis apa..

Tapi tadi buka-buka facebook dan melihat history, jadi inget punya blog.. 😐 *lali*. Sempat lupa password juga. Untung masih ada notes yang tersimpan. Akhirnya, violaa.. buka blog lagi. Nulis lagi.. Cek sana-sini, eh.. gallery ilang semua.. :'(. ya wis..

Dan sekarang kayaknya blog uns mulai kelihatan bersih lagi, engine juga baru. Dan kuota juga mayan.. 400 MB. Dulu cuma beberapa MB saja. 😀 *kejam*

Apresiasi sebesar-besarnya kepada para teknisi di UNS. Aku senang. 😉

Wiro Sableng: Sebuah Kenangan

Postingan ini hanya sekedar iseng untuk menceritakan masa kecil saya yang iseng, dan kemudian terbawa sampai sekarang. Pun tulisan ini terinspirasi dari mbak Qebo dan pengalaman kecilnya tentang Wiro Sableng yang membuat memori saya tentang Wiro Sableng muncul kembali.

Siapa yang tak kenal Wiro Sableng kalau anda kelahiran 80 an?

Saya menyukai tokoh ini bahkan sejak masih novel. Hampir seluruh novelnya sudah saya baca sejak kelas 1 SMP. Sampai episode terakhir. Kegilaan membaca saya yang pertama adalah pada novel Wiro Sableng ini.

Kebetulan adik ibu kos saya punya persewaaan buku. Sehingga saya punya akses yang lebih murah pada novel Wiro Sableng ini. Biasanya kalau orang umum Rp. 150,-  per buku maka bagi saya dan teman kos yang lain cukup dengan Rp. 150,- untuk 2 buku.

Pada saat saya duduk di kelas 2 SMP, novel inipun dibuat sinetronnya. Dan akhirnya sempat ngetop pada tahun 96-97an. Mungkin karena saking kurangnya tontonan bagus di kala itu, jadilah Wiro Sableng sebagai favorit tontonan saya kalau minggu pulang ke rumah. Oh iya, sejak SMP saya sudah kos sendiri.. 🙂

Dan yang membuat saya paling semangat lagi, adalah karena Kepala Sekolah saya waktu itu pernah jadi salah satu figuran. Iya, figuran saja. Tak kurang tak lebih. Tapi semenjak hal itu diumumkan di upacara bendera, saya sudah menunggu hingga hari Ahad menjelang. Tak sabar rasanya untuk pulang kampung dan kemudian duduk menunggu sampai pemutaran Wiro Sableng jam 11an siang.

Lanjutkan membaca “Wiro Sableng: Sebuah Kenangan”

“Biarlah hati ini patah karena sarat dengan beban, dan biarlah dia meledak karena ketegangan. Pada akhirnya perbuatan manusia menentukan, yang mengawali dan mengakhiri. Bagiku, kata-kata hiburan hanya sekedar membasuh kaki. Memang menyegarkan. Tapi tiada arti.”

Arus Balik – Pramoedya Ananta Toer